Bahas Strategi Peningkatan Mutu Jagung, BRMP Pascapanen Laksanakan FGD
Upaya memperkuat daya saing jagung nasional terus digalakkan. Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pascapanen Pertanian (BRMP Pascapanen) bekerja sama dengan Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian Nusa Tenggara Barat (BRMP NTB) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Strategi Pemenuhan Standar Mutu Jagung Berdaya Saing di Tingkat Petani” pada 29 Oktober 2025 lalu di Mataram.
Kegiatan ini menjadi wadah sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan petani dalam merumuskan langkah strategis menuju jagung berkualitas tinggi yang memenuhi standar nasional maupun kebutuhan industri pakan.
FGD ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan seperti Perum BULOG Kanwil NTB, PT Panca Patriot Prima, PT Central Proteina Prima (CPP), Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah, Universitas Mataram, serta BRMP Pascapanen. Peserta yang hadir meliputi kelompok tani dan koperasi jagung dari berbagai wilayah di Lombok Tengah. Diskusi berlangsung dinamis dengan fokus pada tantangan lapangan dan solusi peningkatan kualitas jagung lokal agar mampu menembus pasar industri.
Lalu Irfan Andri Saputra dari Perum BULOG Kanwil NTB dalam paparannya menyampaikan bahwa sesuai penugasan Badan Pangan Nasional, BULOG menargetkan pengadaan satu juta ton jagung pipilan kering secara nasional tahun 2025, dengan porsi 116 ribu ton dari NTB. Hingga Oktober 2025, realisasi baru mencapai 23,5 persen. “Minimnya fasilitas pengeringan dan sarana transportasi menjadi kendala utama. Oleh karena itu, BULOG menekankan pentingnya dukungan infrastruktur pengolahan dan pengeringan agar jagung petani dapat memenuhi standar mutu SNI 8926:2000 dan meningkatkan serapan”, ujar Irfan.
Dari sisi industri, PT Panca Patriot Prima dan PT Central Proteina Prima menyoroti pentingnya kualitas jagung yang memenuhi syarat kadar air maksimal 15 persen dan aflatoksin di bawah 150 ppb. Meskipun jagung asal NTB dikenal memiliki kadar air relatif rendah, konsistensi mutu dinilai masih perlu ditingkatkan agar mampu masuk dalam kategori Grade A dengan batas aflatoksin di bawah 50 ppb. Senada dengan itu, Dinas Pertanian Lombok Tengah melaporkan produksi jagung tahun 2024 mencapai 89 ribu ton, namun masih menghadapi tantangan serius berupa alih fungsi lahan, kekeringan, dan fluktuasi harga panen.
Hadir sebagai kalangan akademisi, Prof. Ir. M. Taufik Fauzi dari Universitas Mataram menegaskan penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Postharvest Practices (GHP) menjadi kunci mencegah kontaminasi aflatoksin sejak awal pembentukan biji.” Jagung dengan kelobot rapat, pengeringan tepat waktu, serta penyimpanan yang baik akan menekan risiko pertumbuhan jamur Aspergillus flavus penyebab aflatoksin”, ujar Taufik.
Miskiyah, mewakili BRMP Pascapanen memaparkan hasil riset yang menunjukkan bahwa 72 persen sumber cemaran aflatoksin berasal dari tahapan pascapanen. BRMP memperkenalkan inovasi teknologi deteksi cepat aflatoksin berbasis sinar UV (365 nm) serta sistem gudang berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu memantau kadar air dan suhu penyimpanan secara real-time untuk menjaga kualitas jagung.
Melalui kegiatan ini, seluruh pemangku kepentingan sepakat bahwa peningkatan daya saing jagung NTB hanya dapat terwujud melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari petani, koperasi, pemerintah, hingga industri. Hasil FGD diharapkan menjadi landasan bagi penyusunan strategi implementatif dalam mewujudkan jagung berstandar mutu tinggi, aman, dan berkelanjutan di tingkat petani.